
Konon, ini merupakan salah satu jurus untuk menyebarluaskan agama Islam di tengah masyarakat Kudus yang saat itu menganut agama Hindu. Maklum, sapi bagi masyarakat Hindu dianggap binatang suci. Itu sebabnya, tak ada soto kudus dengan daging sapi. Yang ada adalah soto berdaging ayam dan kerbau.
Pada soto kerbau, dagingnya terasa lembut dan berwarna merah muda. Kuah soto yang segar berasal dari kaldu dan jeroan kerbau. Untuk menetralisir bau daging kerbau, penjual menaburi bawang putih goreng. Soto Kudus disajikan dalam mangkok mungil. Bukan karena si penjual pelit, tetapi memang begitu porsi dari sono-nya. Tak heran, bila penikmat soto kerbau kudus biasa makan lebih dari satu mangkok.
Bila ingin menikmati secara total cita rasa daging kerbau, kita bisa juga memesan lauk daging kerbau sebagai tambahan, baik empal maupun lidah, yang diolah menjadi daging lapis dengan tambahan taburan bawang goreng. Sebagai kondimen disediakan kecap, jeruk limau dan sambal. Harganya pun relatif murah, seporsi soto kudus tidak lebih dari Rp.6000 untuk menebusnya. Ditambah minuman, baik teh maupun air jeruk yang harganya paling mentok di angka Rp2.000,00, masih cukup terjangkau oleh isi kantong. Harga yang sepadan, bila dibandingkan kenikmatan, kepuasan dan kelangkaan menu sajian khas pantura timur ini.